Bukan sedang promo... melainkan sedang berminat sekali untuk ikut monthly even ini.
Kebetulan, bahan yang dipilih untuk bulan ini tidak sulit, AYAM, itu intinya.
Ketika ibuku meninggalkanku, aku mulai mencari cari data apa saja yang dibutuhkan ketika harus mengurus segala keperluan akan surat surat yang harus dikeluarkan oleh sejumlah instansi untuk kami sekeluarga. Tak kusangka, justru banyak sekali yang kutemukan dalam sebuah almari yang sama sekali tak boleh di sentuh oleh semua anak - anak ibuku.
Buku usang, berwana biru, keluaran pabrik kertas Leces di Indonesia bagian timur, entah tepatnya di mana. Masih jaman kuno sekali, tetapi buku ini berisi tulisan tulisan ibuku tentang beberapa resep masakan dan kue. Juga resep obat ramuan dari kakek yang ayah dari ayahku. Dan beberapa buku tulis yang berisi tulisan aneh tentang kami sekeluarga.
Bagai melesak keluar dari tempatnya jantung ini, betapa girang dan senangnya aku ketika menemukan buku buku ini. Paling tidak keinginan untuk memperoleh resep masakan ibuku masih terlaksana walau hanya sedikit saja jumlahnya. Bagaimana aku tak bahagia, apalagi ibuku mulai memasak untukku ketika aku beranjak SMA, dari mulai masakan yang tak keruan, menjadi sangat lezat hingga semua teman temannya menganggap masakannya paling TOP, dan ketika niatku untuk melestarikan semua resep masakannya sama sekali tak keburu karena ia terlebih dulu dipanggil pulang menghadap Yang Esa.
Beberapa tahun beranjak dari tahun kepergian ibuku, buku catatan masakan ini tak terlalu kuperhatikan. Hanya pernah kubaca sekilas dan kubiarkan berada di dalam rak buku yang menyimpan segenap buku buku koleksiku. Paling kuingat, resep ini berada di halaman pertama paling atas.
Empat hari yang lalu, MFM kedua diumumkan dan Lisa (aprilisa) sebagai pemandunya . Tak terlalu lama, kuyakinkan diriku untuk ikut serta setelah membaca semua tata tertibnya. Walau sebenarnya, agak takut takut juga mengikuti MFM kedua, karena memang belum mantap benar.
Mombolak balik buku masakan dan memilih hari untuk memasak, supaya kami serumah tidak terlalu membuang makanan, itu yang pertama kali kulakukan. Kebiasaanku selama ini, tak pernah mempunyai takaran formula untuk memasak makanan sehari hari, asal nyemplung dan cocok di lidah, inilah sebab utama mengapa aku tidak mengajukan masakanku sendiri, tetapi masakan dari resep peninggalan ibuku. Beberapa malam kubaca dan kucermati dan kubolak balik untuk kupelajari satu persatu.
Sempat berbincang dengan Stella (cikciks) akan masakan apa yang kutampilkan karena kurang percaya diri dan karena ada 3 masakan ayam yang menarik, miswa ajam (samarinda), soto ajam kediri, dan ajam goreng balado (padang). Juga karena aku selalu mengagumi masakan Stella yang aduhai. Ia menyarankan untuk masak yang mudah saja dan memang benar kukira, kenapa harus sulit. Akhirnya, pilihan jatuh pada miswa ajam (samarinda).
Resep kupindahkan dan dikutip sesuai aslinya :
M I S W A A J A M ( S A M A R I N D A )
Keperluan :
- ajam jg gemuk dan muda
- 3 siung bawang putih
- 3 siung bawang merah
- Djahe sebesar 1/3 ibu djari
- seperes sendok makan garam
- 2 sendok makan ketjap manis
- 1 sendok teh meritja halus
- air djeruk nipis kira kira dari 1 djeruk
- minyak goreng
Membuatnja:
- Untuk keperluan tsb baiknja pakai ajam jg masih muda betul supaja dagingnja empuk tanpa di rebus.
- Setelah ajam dibersihkan dipotong potong lalu lumuri dengan setengah sendok makan garam
- Diamkan 1 djam lalu goreng sampai kuning,
- sisa garam dan bumbu bumbu, bahan lain ditumbuk halus.
- Tuangkan kira kira 1/2 tjangkir dari minjak bekas menggoreng ajam.
- Tumis bumbu bumbu tsb sampai harum baunja.
- Masukkan ketjap dan air djeruk, lalu masukkan ajamnja.
- Aduk aduk rata, bubuhi meritja, aduk aduk lagi lalu angkat.
Hasilnya di dokumentasikan seperti gambar di samping resep, dan rasanya luar biasa... enak.. :)
Hehehehe.... maklum, tulisannja edjaan kuno. Kalau ibuku masih hidup dan melihatku posting resep pakai edjaan djaman kuno, pasti langsung di djawil djawil (nyolek nyolek) supaja diganti dengan edjaan sekarang, sambil berteriak... KUNOOOOO ngisin ngisini....
Hihihihihihi.... sampai saat terakhirnja ibuku masih tetap tidak bisa membedakan huruf J dan Y. Kalau beliau menulis huruf J ditulisan adalah DJ. Dan Y ditulis J. Sampai suatukali djuga, sempat kebingungan mana edjaan jang benar.... hihihihihi.... :p
{fin}
Notes :
- Perhatikan ketika menggoreng ayam, goreng dengan minyak banyak dan api besar (bukan sangat besar), hingga berubah kekuning keemasan. Pastikan minyak sudah panas benar ketika akan menggoreng daging ayam.
- Bila takut amis, lumuri ayam dengan 1 sendok makan air jeruk nipis.
- Setelah menumis bumbu yang telah di haluskan dan wanginya sudah tercium, kecilkan apinya. Karena hati hati dalam memasak saus ini, bila api terlalu besar, maka kecap yang tertuang kedalam tumisan bumbu lebih cepat gosong.
- Karena ayam sudah dimatangkan dengan menggorengnya terlebih dulu, maka mencampur saus ini cukup dengan api sedang agar tercampur rata dan kecap tidak menjadi gosong.